SKRIP BANER ATAS
BANGGAIINFO PUPRKABAR TERKINI

Forum Diskusi, Dinas PUPR Bahas DED Penanganan Abrasi Pantai Jole, Keraton dan Sungai Lobu 

68
×

Forum Diskusi, Dinas PUPR Bahas DED Penanganan Abrasi Pantai Jole, Keraton dan Sungai Lobu 

Sebarkan artikel ini
Bidang Pengairan Dinas PUPR Banggai menggelar diskusi laporan pendahuluan untuk DED Pantai Jole dan Keraton Kecamatan Luwuk serta Pantai Lobu, Kecamatan Lobu, pada Selasa 22 Juli 2025. (dok ist)

PORTAL LUWUK—Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Banggai melalui Bidang Pengairan kembali mengadakan forum diskusi awal terkait penyusunan Detail Engineering Design (DED) bagi kawasan rawan abrasi di dua wilayah, yakni Pantai Kelurahan Jole dan Kelurahan Keraton di Kecamatan Luwuk, serta wilayah aliran Sungai Lobu di Kecamatan Lobu.

Penyusunan DED untuk Sungai Lobu dilaksanakan oleh CV Geometrik Konsultan Teknik, sedangkan DED Pantai Jole dan Keraton dikerjakan oleh CV Rumbea Tri Putra.

iklan
Scrool Untuk Membaca Berita

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari diskusi serupa yang digelar sehari sebelumnya oleh Bidang Pengairan PUPR Banggai. Dalam forum tersebut, dibahas pula laporan pendahuluan untuk DED Rehabilitasi Jaringan Irigasi DI Bahulolok serta DED Drainase di kawasan perkantoran Bukit Halimun, Luwuk.

Seluruh rangkaian diskusi berlangsung di Hotel Santika Luwuk. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas PUPR Banggai, Dewa Supatriagama, yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengairan, Takdir Said, ST.

Dalam sambutannya, Takdir Said menjelaskan bahwa laporan pendahuluan merupakan langkah awal dalam tahapan penyusunan perencanaan teknis, terutama dalam konteks pengelolaan sumber daya air serta mitigasi terhadap kerusakan akibat air di kawasan pantai dan sungai.

“DED yang dirancang secara komprehensif akan menjadi pijakan bagi pelaksanaan pembangunan yang tepat, efisien, dan berorientasi pada keberlanjutan. Forum ini kami harapkan menjadi ruang terbuka bagi semua pihak untuk memberi masukan agar dokumen yang dihasilkan sesuai dengan realitas teknis dan kebutuhan aktual di lapangan,” ujarnya.

Baca Juga :  Tim Sepak Bola Nambo, Kintom, Nuhon dan Luwuk Kota Raih Kemenangan

Ia juga mengapresiasi partisipasi aktif dari berbagai pihak terkait demi mendorong pembangunan infrastruktur pengairan yang lebih baik.

PPK Bidang Pengairan, Astrid Dwijayanthi, mengungkapkan Pantai Jole menjadi perhatian serius karena kerap terdampak gelombang besar, terutama di sepanjang kawasan Jembatan Pasar Simpong hingga Tugu GMT, yang menyebabkan kerusakan pada tanggul dan mengancam ruas Jalan RE Martadinata.

“Melalui DED ini, kami ingin mengetahui cara terbaik untuk membangun tanggul yang lebih efektif dalam menahan abrasi serta mendukung pengembangan kawasan wisata pantai dan sungai,” jelasnya.

Sementara itu, Ashar Ahsan, perwakilan dari CV Rumbea Tri Putra, dalam paparannya menyampaikan saat ini pihaknya sedang melakukan survei batimetri, topografi, serta pengamatan pasang surut air laut untuk menghitung arah angin dan gelombang secara akurat.

“Latar belakang studi ini adalah kemunduran garis pantai dari tahun ke tahun di kawasan pesisir Kabupaten Banggai. Oleh karena itu, diperlukan desain bangunan pengaman pantai yang tepat guna dan sesuai kondisi teknis lapangan,” kata Ashar.

Di Kecamatan Luwuk sendiri, belum terdapat bangunan pengaman pantai seperti pemecah gelombang, yang sangat dibutuhkan untuk melindungi pemukiman, pasar, tempat ibadah, serta infrastruktur jalan.

Ashar menambahkan, penyusunan DED ini bertujuan untuk merancang struktur pengaman pantai yang tidak hanya melindungi dari abrasi dan gelombang tinggi, tetapi juga mendukung potensi wisata di kawasan tersebut.

“Target kami ke depan adalah: pertama, mengantisipasi abrasi; kedua, meredam gelombang; dan ketiga, mendesain kawasan pesisir agar dapat menjadi destinasi wisata,” ujarnya.

Baca Juga :  Segera Dirampungkan PUPR Banggai, Ini Tampilan Pasar Modern Simpong Luwuk, Desain Fasad ACP Terlihat Unik dengan Motif Burung Maleo dan BCF
Bidang Pengairan Dinas PUPR Banggai menggelar diskusi laporan pendahuluan untuk DED Pantai Jole dan Keraton Kecamatan Luwuk serta Pantai Lobu, Kecamatan Lobu, pada Selasa 22 Juli 2025. (dok ist)

Dari hasil survei lapangan, diketahui bahwa pantai di wilayah Simpong hingga GMT memiliki cekungan rawan arah angin, dan sebagian besar tanggul belum menggunakan reflektor gelombang—komponen yang berguna untuk meredam dan memantulkan kembali ombak.

Berdasarkan data BMKG, gelombang laut di kawasan ini bisa mencapai ketinggian 1,5 hingga 3 meter pada musim tertentu. Sementara itu, topografi pantai cenderung datar hingga jarak 20–30 meter dari garis pantai sebelum menurun ke palung laut.

Ashar menjelaskan bahwa desain bangunan pantai yang sedang dikaji kemungkinan akan menggunakan sistem groin (struktur menjorok ke laut) dengan estimasi panjang 14 meter dari garis pantai, sedangkan terumbu karang berada sekitar 17 meter dari garis pantai. Pemilihan desain juga mempertimbangkan reflektor sebagai bagian penting untuk menahan gempuran ombak.

“Dengan adanya DED ini, kami berharap dapat memperkuat perlindungan fisik pesisir, mengatur kembali penataan ruang kawasan pantai, dan mendukung pengembangan destinasi wisata bahari di Jole dan Keraton,” pungkasnya.

Turut hadir dalam diskusi laporan pendahuluan ini, Camat Luwuk, Camat Luwuk Selatan, Lurah Jole, Lurah Keraton, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Mereka turut memberikan masukan dan kritik konstruktif terhadap laporan pendahuluan DED Pantai Jole dan Keraton, untuk memastikan rencana yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan teknis dan kondisi di lapangan. (*)