SKRIP BANER ATAS
BANGGAIINFO DINKESKABAR TERKINI

UPTD Puskesmas Kintom Dorong Penurunan Kasus TB Lewat Inovasi JO-TOS

17
×

UPTD Puskesmas Kintom Dorong Penurunan Kasus TB Lewat Inovasi JO-TOS

Sebarkan artikel ini
Para petugas kesehatan sedang aktif mengantarkan obat langsung kesejumlah pasien (Foto : Istimewa)

PORTAL LUWUK – Dalam upaya menekan angka kasus Tuberkulosis (TB), UPTD Puskesmas Kintom meluncurkan inovasi bertajuk JO-TOS (Jemput, Obati, Sampai Tuntas) yang telah dijalankan sejak tahun 2022.

Inovasi ini hadir sebagai solusi atas tingginya capaian kasus TB di wilayah kerja Puskesmas Kintom dalam beberapa tahun terakhir.

iklan
Scrool Untuk Membaca Berita

Melalui JO-TOS, pasien TB tak lagi diharuskan datang ke fasilitas kesehatan untuk mengambil obat, melainkan petugas kesehatan yang secara aktif mengantarkan obat langsung ke rumah masing-masing pasien.

Baca Juga :  Desa Lembah Keramat Banggai Jadi Kampung Moderasi Beragama

Langkah ini diyakini mampu mengurangi beban finansial pasien, memperkuat kepatuhan pengobatan, sekaligus menekan angka pasien yang berhenti minum obat di tengah jalan.

‘Inovasi ini secara nyata telah mencegah terjadinya pasien putus obat. Kami ingin memastikan pengobatan TB benar-benar tuntas. Pengobatan juga kepada penderita yang sudah 100 persen (sembuh),”ungkap Marce Pombayowo, A.Md.Kep, staf Puskesmas Kintom sekaligus inovator JO-TOS sebagaimana dilansir Okenesia.com, Rabu (6/8/2025).

Penerapan JO-TOS juga melibatkan kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah desa dan kecamatan, pihak perusahaan, hingga institusi pendidikan seperti Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tompotika (Untika) Luwuk.

Baca Juga :  Lomba Balap Motor Banggai Cup Prix 3 Resmi Dibuka Bupati Amirudin

Hingga tahun 2025, jumlah pasien TB yang menjadi sasaran kunjungan rumah tersisa 13 orang, yang tersebar di 11 desa dan 3 kelurahan di wilayah Kintom. Data ini menunjukkan tren penurunan yang signifikan sejak awal penerapan inovasi.

Dengan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, JO-TOS diharapkan mampu menjadi model pelayanan kesehatan berbasis jemput bola yang bisa direplikasi di wilayah lain dalam penanganan penyakit menular.*