PORTAL LUWUK – Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Tanaman Pangan (TPHP) Banggai telah membuka lahan percontohan mengunakan metode selang tetes dan kinjir. Kedua alat ini digunakan dalam proses pertanian, terutama untuk menyiram tanaman.
Pembukaan kebun percontohan ini telah dimulai sejak September 2024 menggunakan garapan seluas setengah hektar di kompleks perkantoran bukit Halimun, Luwuk Selatan.
Lokasi ini bisa digunakan sebagai study tiru penanaman komoditi seperti tomat, cabe, ketimun, terong dan buah melon.
Metode selang tetes dirancang untuk mengalirkan air secara perlahan, langsung keakar tanaman. Prinsip kerjanya, air mengalir melalui selang dan keluar melalui lubang lubang kecil yang disebut ‘tetes’.
Kelebihan metode ini bisa menghemat air, mengurangi evaporasi, mengurangi erosi tanah dan memperbaiki pertumbuhan tanaman.
Biaya awal relatif tinggi dan memerlukan perawatan rutin untuk mencegah sumbatan.
Metode kinjir sendiri lebih merujuk pada seluruh sistem atau perangkat yang digunakan untuk mengalirkan air ke tanaman, termasuk selang, pipa, dan katup. Dalam beberapa konteks, kinjir juga bisa merujuk pada pompa air yang digunakan untuk memompa air ke sistem irigasi.
Namun kedua metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengoptimalkan penggunaan air dalam pertanian atau perawatan tanaman, serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Pantauan media ini, teknik metode ini cukup membuahkan hasil. Komoditi seperti tomat, cabe dan terong terlihat mengeluarkan buah segar. Padahal umurnya baru sebulan lebih ditanam.
“Baru sebulan kami tanam, sekarang sudah banyak mengeluarkan buah. Ada juga pemberian pupuk tapi sebatas merangsang,”kata Abdul Jamil, petani asal Desa Lumpoknya sekaligus pengelola kebun pencontohan, Selasa (22/1/2025).
Abdul Jamil menerangkan, jumlah komoditi yang dikembangkan variatif, yakni tanaman tomat sebanyak 1000 pohon, melon 700 pohon, ketimun 600 pohon, terung 400 pohon dan cabe 700 pohon.
Manfaat lebih sehat dari metode penanaman komoditi yang satu ini lanjutnya, tidak sama dengan tanaman konfensional menggunakan festisida, fungsida sintetis tumbuhan organik. Ini justru alami dan lebih sehat, segar dan sangat aman untuk dikonsumsi.
Selain itu, metode ini juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan tumbuhan dengan teknik teknik seperti rotasi tanaman yang tidak serentak. Sehingga buah yang dihasilkan berkelanjutan.
Selain itu, pencemaran lingkungan dapat dihindari karena tidak adanya penggunaan bahan kimia.
“Bagi siapa saja yang mau melakukan study tiru bisa kelokasi ini. Utamanya lembaga penelitian mulai dari TK, Siswa dan kampus serta kelompok tani,”ucapnya.*
SKRIP BANER ATAS














