SKRIP BANER ATAS
★ Unggulan Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000

Order via WhatsApp
BANGGAIKABAR TERKINI

Bioferdom Membawa Harapan Baru bagi Petani Jagung

61
×

Bioferdom Membawa Harapan Baru bagi Petani Jagung

Sebarkan artikel ini
Petani dan warga Desa Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, memperlihatkan proses pembuatan pupuk Bioferdom dalam program Sekolah Lapang yang dikembangkan Pertamina EP Donggi Matindok Field. Program ini memanfaatkan biosulfur dari proses pengolahan gas untuk dikembangkan menjadi pupuk bagi pertanian, sekaligus mendorong peningkatan pengetahuan dan kemandirian petani.

PORTAL LUWUK – Terik matahari menggantung diatas Desa Kayowa siang itu. Keringat membasahi wajah Beni Irawan. Sesekali, Ketua Kelompok Tani Mosaango Bersatu itu mengibaskan selembar kertas kosong ke wajahnya, mencoba mengusir hawa panas yang menyengat.

Ia duduk termenung. Pandangannya tertuju kearah lahan jagung. Dibalik suasana siang yang gerah, ada hitung-hitungan yang tidak pernah jauh dari pikiran seorang petani, berapa biaya yang harus dikeluarkan, seberapa besar hasil panen yang bisa diharapkan, dan berapa keuntungan yang tersisa setelah semua pengeluaran dibayar.

iklan
Scrool Untuk Membaca Berita

Bertani tidak sesederhana menanam benih, menunggu tanaman tumbuh, lalu memanen hasilnya. Ada pupuk yang harus dibeli, tanah yang perlu dirawat, tanaman yang harus dijaga dari hama, serta cuaca yang tidak selalu dapat diperkirakan.

Setiap musim tanam membawa harapan sekaligus risiko. Petani mengeluarkan biaya jauh sebelum mengetahui berapa banyak jagung yang dapat dipanen. Ketika hasilnya tidak sesuai perkiraan, pengeluaran yang telah dilakukan tetap harus ditanggung.

Bagi Beni dan petani lainnya di Desa Kayowa, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, persoalan biaya produksi menjadi bagian penting dalam mempertahankan usaha tani.

Pupuk dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan tanaman, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan lahan dan kemampuan petani.

Mengurangi pupuk tanpa perhitungan dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, menambah pupuk juga tidak otomatis menghasilkan panen lebih banyak.

Petani perlu mengetahui jenis, dosis, dan waktu pemberian yang tepat agar pengeluaran sebanding dengan manfaat yang diperoleh.

Ditengah persoalan itu, muncul upaya mencari alternatif melalui inovasi yang menghubungkan sektor industri dengan pertanian.

Namanya Bioferdom, pupuk organik berbasis biosulfur yang dikembangkan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF).

Bahan bakunya berasal dari produk samping proses pemurnian gas alam. Material yang dihasilkan dalam kegiatan industri tersebut diolah agar memiliki nilai guna bagi pertanian.

Bagi petani, inovasi ini menghadirkan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: apakah pupuk yang dikembangkan dari produk samping industri dapat membantu menekan biaya produksi, menjaga produktivitas lahan, dan meningkatkan pendapatan.

Jawabannya tidak cukup diperoleh dari penjelasan mengenai teknologi. Manfaatnya perlu dilihat dari pengalaman petani, biaya yang benar-benar dikeluarkan, hasil panen, serta kemampuan mereka mempertahankan usaha tani dalam jangka panjang.

Menghitung biaya sebelum menghitung keuntungan

Bagi petani jagung, keberhasilan musim tanam tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil yang dipanen. Ada perhitungan lain yang sama pentingnya, yakni berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan setiap kilogram jagung.

Pengeluaran untuk benih, pupuk, pengolahan tanah, tenaga kerja, dan kebutuhan lainnya harus diperhitungkan sebelum keuntungan dapat diketahui.

Harga jual juga menentukan apakah hasil panen mampu menutup biaya dan menyisakan pendapatan bagi petani. Karena itu, perubahan penggunaan pupuk perlu dinilai secara cermat.

Jika penggunaan pupuk kimia berkurang setelah petani mengenal Bioferdom, jumlah penghematan harus dihitung berdasarkan harga, volume penggunaan, luas lahan, dan periode tanam yang sebanding.

Demikian pula jika hasil panen meningkat. Perubahan tersebut perlu dibandingkan dengan hasil sebelumnya, sambil memperhatikan varietas benih, cuaca, kondisi tanah, pengendalian hama, dan praktik budidaya lainnya.

Pengalaman Beni sebagai Ketua Kelompok Tani Mosaango Bersatu menjadi penting untuk memahami bagaimana inovasi tersebut diterapkan di tingkat petani.

Namun, pengalaman itu perlu dilengkapi catatan penggunaan pupuk dan hasil panen agar perubahan yang dirasakan dapat dinilai secara terukur.

Bagi petani, penghematan bukan sekadar berkurangnya jumlah pupuk yang dibeli. Penghematan baru berarti apabila biaya keseluruhan turun tanpa mengorbankan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Disinilah pentingnya pendampingan. Petani membutuhkan pengetahuan untuk menentukan kebutuhan tanaman, memahami kondisi lahan, dan mengevaluasi apakah suatu metode benar-benar memberikan manfaat ekonomi.

Dari pemurnian gas menuju lahan pertanian

Di Central Processing Plant Matindok, proses pemurnian gas alam menghasilkan material samping berupa biosulfur slurry. Material tersebut menjadi bahan dasar pengembangan Bioferdom.

PT Pertamina EP Donggi Matindok Field Zona 13, bagian dari PT Pertamina Hulu Energi Regional 4, mengembangkan pemanfaatan material tersebut melalui proses Bio Sulfur Recovery Unit (BSRU) menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian.

Inovasi ini mempertemukan dua sektor yang selama ini memiliki fungsi berbeda. Disatu sisi, industri hulu migas menjalankan proses produksi dan menangani material yang dihasilkan.

Disisi lain, petani membutuhkan sarana produksi untuk menjaga pertumbuhan tanaman dan mengelola biaya usaha tani.

Bioferdom dikembangkan agar produk samping industri tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang bernilai guna.

Namun, pemanfaatannya tetap harus memperhatikan karakteristik produk, kualitas, keamanan, serta kesesuaian dengan kebutuhan tanaman.

Pupuk tidak dapat dinilai hanya berdasarkan asal bahan bakunya. Kandungan nutrisi, proses pengolahan, dosis aplikasi, kondisi tanah, dan respons tanaman perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Penjelasan teknis mengenai proses produksi Bioferdom penting untuk membantu petani memahami apa yang digunakan pada lahan mereka. Informasi itu juga diperlukan agar inovasi dapat dinilai secara objektif, bukan hanya berdasarkan harapan atau klaim manfaat.

Manager Pertamina EP Donggi Matindok Field, Moh. Sidik Asngari, menyampaikan bahwa inovasi tersebut lahir dari upaya memberikan nilai guna pada produk samping industri sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat disekitar wilayah operasi perusahaan.

“Bioferdom lahir dari keyakinan bahwa tidak ada yang benar-benar terbuang dari sebuah proses produksi. Produk samping pemurnian yang selama ini belum bisa dimanfaatkan sebagai produk turunan, kami ubah menjadi pupuk organik yang menghidupi lahan petani. Melalui Sekolah Lapang, pengetahuan itu kami serahkan sepenuhnya kepada masyarakat agar mereka mampu memproduksi, menggunakan, dan mengembangkannya secara mandiri,”ujar Sidik.

Baca Juga :  Prospek Tambang Batu Gamping di Banggai, Sukri Djalumang : Sepanjang Sesuai Aturan Kami Support

Menurut Sidik, perusahaan ingin agar manfaat program tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berlanjut melalui kemampuan masyarakat mengelola usaha secara mandiri.

“Kami ingin memastikan kehadiran Pertamina di Banggai memberi manfaat yang bertahan lebih lama dari usia operasi lapangan. Ketika petani Desa Kayowa mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, dan menjaga kesuburan tanah, disitulah tujuan pembangunan berkelanjutan benar-benar bekerja. Penghargaan ini milik mereka yang setiap hari turun ke lahan,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menempatkan keberlanjutan sebagai salah satu tujuan program. Meski demikian, besarnya manfaat bagi petani tetap perlu dibuktikan melalui data penggunaan pupuk, biaya produksi, hasil panen, dan evaluasi jangka panjang.

Sekolah Lapang membangun kemampuan petani

Bioferdom dikembangkan bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mosa’angu di Desa Kayowa melalui program Sekolah Lapang.

Pendekatan ini tidak hanya mengenalkan pupuk, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan petani mengenai praktik budidaya. Pembelajaran di lapangan memungkinkan petani mempelajari penggunaan sarana produksi, pengelolaan tanaman, pemupukan, dan pengendalian hama.

Dalam kegiatan pertanian, pengetahuan teknis memiliki peran penting. Jenis pupuk yang sama dapat memberikan hasil berbeda ketika diterapkan pada lahan dengan karakteristik tanah, kelembapan, dan kebutuhan nutrisi yang berbeda.

Petani juga perlu mengetahui kapan pupuk diberikan, berapa dosis yang sesuai, serta bagaimana mengamati respons tanaman. Dengan pemahaman tersebut, keputusan penggunaan pupuk dapat didasarkan pada kebutuhan lahan, bukan hanya kebiasaan.

Sr. Officer Communication Relations & CID Pertamina EP Donggi Matindok Field Zona 13, Ade Barkah, merupakan narasumber penting untuk menjelaskan pelaksanaan Sekolah Lapang Bioferdom.

Informasi mengenai jumlah petani yang terlibat, luas lahan penerapan, kapasitas produksi pupuk, frekuensi pendampingan, dan hasil evaluasi program diperlukan untuk menunjukkan skala kegiatan serta manfaat yang telah dicapai.

Data tersebut juga dapat menjelaskan apakah program telah membangun kemampuan kelompok tani untuk melanjutkan produksi dan penggunaan pupuk secara mandiri.

Kemandirian tidak hanya berarti petani mampu menggunakan produk tanpa bantuan langsung. Mereka juga perlu mengetahui biaya pembuatannya, memastikan ketersediaan bahan baku, menjaga kualitas, serta memahami prosedur produksi dan penyimpanan yang aman.

Jika produksi pupuk bergantung pada pendampingan dan pasokan bahan dari luar kelompok, keberlanjutan program perlu dirancang dengan mempertimbangkan ketergantungan tersebut.

Sebaliknya, jika kelompok mampu mengelola proses secara mandiri, model pengelolaan dan kebutuhan sumber dayanya perlu didokumentasikan agar dapat dievaluasi.

Sekolah Lapang pada akhirnya harus menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan petani dalam mengambil keputusan. Manfaatnya tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang hadir, melainkan juga dari perubahan praktik budidaya dan hasil usaha tani.

Mengukur hasil melalui penelitian

Pengalaman petani merupakan bagian penting dalam menilai sebuah inovasi, tetapi pengalaman perlu dilengkapi dengan penelitian untuk mengetahui seberapa jauh perubahan yang terjadi.

Muh Syair, yang tercantum sebagai penulis penelitian terkait Bioferdom, menjadi narasumber yang relevan untuk menjelaskan metode pengujian, dosis aplikasi, hasil penelitian, serta keterbatasan data yang tersedia. Afiliasi dan jabatan teknis terkininya perlu dikonfirmasi sebelum dicantumkan.

Penelitian yang tersedia melaporkan adanya perubahan pada produktivitas jagung dan penerapan praktik budidaya setelah program pendampingan.

Data tersebut perlu dibaca sesuai rancangan penelitian, terutama apabila program mencakup beberapa bentuk intervensi sekaligus.

Ketika petani menerima pupuk, pelatihan, dan pendampingan teknis pada periode yang sama, peningkatan hasil panen tidak dapat langsung dianggap sebagai dampak pupuk semata.

Perubahan teknik budidaya, pengendalian hama, kondisi cuaca, dan faktor lainnya juga dapat mempengaruhi hasil.

Untuk mengetahui kontribusi Bioferdom secara lebih spesifik, diperlukan informasi tentang metode penelitian, jumlah petani atau lahan yang diamati, dosis yang digunakan, serta perlakuan pembanding. Data sebelum dan sesudah penerapan perlu disajikan dengan jelas.

Pengukuran ekonomi juga sama pentingnya. Peningkatan produktivitas belum tentu menghasilkan peningkatan keuntungan apabila biaya tambahan lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh.

Karena itu, evaluasi perlu mencakup biaya seluruh sarana produksi, tenaga kerja, hasil panen, dan harga jual. Dari sana, dapat diketahui apakah penggunaan Bioferdom benar-benar memperbaiki margin usaha tani.

Penjelasan ilmiah tidak dimaksudkan untuk mengecilkan potensi inovasi. Sebaliknya, pengujian yang transparan membantu menentukan kondisi penggunaan yang tepat dan menunjukkan batas manfaatnya.

Jika hasil penelitian mendukung penggunaan Bioferdom pada kondisi tertentu, informasi tersebut dapat membantu petani mengambil keputusan yang lebih baik.

Jika hasilnya berbeda antarwilayah atau jenis tanah, perbedaan tersebut juga penting diketahui agar penggunaan produk tidak disamaratakan.

Manfaat bagi desa dan keberlanjutan program

Kepala Desa Kayowa, Mohammad Ali Daeng Maroa, dapat memberikan perspektif mengenai perubahan yang dirasakan masyarakat, manfaat program bagi kelompok tani, serta peluang keberlanjutannya.

Dari sudut pandang desa, keberhasilan program perlu dilihat dari kemampuan masyarakat mempertahankan kegiatan setelah pendampingan berakhir.

Penguatan kapasitas kelompok tani, akses terhadap bahan baku, ketersediaan sarana produksi, dan pasar hasil pertanian merupakan bagian dari ekosistem yang menentukan keberlanjutan.

Program pemberdayaan akan lebih berarti jika masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menentukan kebutuhan, mengelola kegiatan, dan mengevaluasi hasilnya.

Bagi petani, kemampuan mengelola biaya produksi menjadi salah satu ukuran penting. Mereka perlu mengetahui apakah penggunaan pupuk baru benar-benar mengurangi pengeluaran, apakah produktivitas tetap terjaga, serta apakah pendapatan bersih mengalami perubahan.

Sementara itu, pemerintah desa dapat membantu memastikan bahwa informasi tentang program menjangkau masyarakat dan bahwa manfaatnya tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok tanpa evaluasi yang jelas.

Keberlanjutan juga membutuhkan keterbukaan terhadap hasil yang belum sesuai harapan. Jika penggunaan pupuk belum menghasilkan perubahan signifikan pada sebagian lahan, penyebabnya perlu ditelusuri. Jika terdapat praktik yang lebih efektif, pengalaman tersebut dapat dibagikan kepada petani lain.

Baca Juga :  Nanti Dijaman AT Jalan Mulai Bagus, Porsi APBD Bualemo Alami Peningkatan Pesat

Pendekatan semacam ini membantu menjadikan inovasi sebagai proses pembelajaran bersama, bukan sekadar kegiatan yang selesai ketika bantuan diberikan atau penghargaan diterima.

Gold ISDA 2026 dan ukuran keberhasilan di lahan

Bioferdom mengantarkan PT Pertamina EP Donggi Matindok Field Zona 13 meraih penghargaan Gold Pilar Sosial SDGs 2 dalam Indonesian SDGs Award (ISDA) 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan pada ajang Penganugerahan Indonesian CSR Awards dan Indonesian SDGs Awards 2026 yang diselenggarakan Corporate Forum for CSR Development (CFCD) di Ballroom Bidakara, Jakarta Selatan.

Program Bioferdom dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan Target 2.3 yang menekankan peningkatan produktivitas serta pendapatan produsen pangan skala kecil.

Program ini juga berkaitan dengan upaya penguatan kapasitas usaha masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya dan pendampingan pertanian.

Ketua Panitia Penganugerahan ICA dan ISDA 2026, Ir. Thendri Supriatno, M.B.A., menyampaikan bahwa penilaian tahun ini menekankan bukti dampak dan keberlanjutan program.

“Indonesian SDGs Award bukan sekadar ajang seremonial. Kami mendorong dunia usaha menghadirkan program yang terencana, terukur, dan benar-benar dirasakan masyarakat. Program-program terbaik tahun ini menunjukkan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan, bukan sekadar pelengkap,”ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses penilaian dilakukan dengan mengedepankan objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas, dengan melibatkan dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi, serta perwakilan kementerian dan lembaga.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas program yang dikembangkan perusahaan. Namun, bagi petani, keberhasilan inovasi tetap harus dinilai dari manfaat yang dapat dirasakan dan diukur dalam kegiatan sehari-hari.

Apakah kebutuhan pupuk menjadi lebih terjangkau? Apakah biaya produksi berkurang? Apakah hasil panen dan pendapatan membaik? Apakah kualitas tanah tetap terjaga? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan sejauh mana program mampu mendukung keberlanjutan usaha tani.

Bagi Beni Irawan dan petani lainnya di Kayowa, masa depan pertanian tidak ditentukan oleh satu jenis pupuk saja. Ada pengetahuan yang perlu terus dikembangkan, kondisi lahan yang harus dipahami, serta biaya yang perlu dikelola secara cermat.

Bioferdom menawarkan salah satu pendekatan melalui pemanfaatan produk samping industri untuk mendukung pertanian. Sekolah Lapang membuka ruang bagi petani untuk mempelajari penerapannya.

Penelitian membantu menguji manfaatnya, sementara data ekonomi menunjukkan apakah inovasi tersebut layak diteruskan.

Dari lahan jagung di Kayowa, cerita ini kembali pada persoalan awal bagaimana petani dapat mempertahankan produktivitas tanpa membiarkan biaya produksi semakin membebani penghidupan mereka.

Jawabannya tidak berhenti pada proses mengubah biosulfur menjadi pupuk. Jawaban itu perlu ditemukan melalui pengalaman petani, hasil penelitian yang dapat diperiksa, dan kemampuan kelompok tani mengelola usaha secara mandiri.

Disitulah ukuran keberlanjutan sesungguhnya berada. Bukan semata-mata pada inovasi yang diperkenalkan atau penghargaan yang diraih, melainkan pada perubahan yang dapat dibuktikan di lahan dan dirasakan dalam kehidupan petani.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan inovasi pertanian bukan hanya tentang apa yang dapat dihasilkan oleh teknologi, tetapi juga tentang sejauh mana teknologi itu membantu orang-orang yang setiap hari bekerja untuk menumbuhkan pangan.

Menjelang sore, panas di Kayowa perlahan mereda. Namun, bagi petani seperti Beni Irawan, pekerjaan tidak ikut selesai ketika matahari turun. Esok hari, lahan kembali menunggu untuk dirawat, pupuk kembali harus diperhitungkan, dan harapan kembali dipertaruhkan pada tanaman yang belum tentu memberikan hasil sesuai keinginan.

Dibalik setiap batang jagung yang tumbuh, ada tenaga yang terkuras, uang yang dikeluarkan, dan kecemasan yang jarang terlihat oleh orang-orang yang menikmati hasil panen.

Petani bisa bekerja sejak pagi, tetapi tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak yang akan tersisa ketika seluruh biaya dibayarkan. Tanah yang digarap dengan tekun pun tidak selalu mampu membalas kerja keras mereka.

Barangkali, disitulah arti penting Bioferdom bagi petani Kayowa. Bukan semata-mata tentang pupuk yang lahir dari proses pengolahan gas, melainkan tentang upaya mencari jalan agar kerja keras petani tidak terus-menerus dibayangi biaya yang menekan dan hasil yang tidak pasti.

Tetapi harapan tidak boleh berhenti sebagai kalimat indah dalam laporan program atau piala yang disimpan setelah sebuah penghargaan.

Harapan harus tumbuh menjadi manfaat yang bisa dihitung, dirasakan, dan dipertahankan. Petani membutuhkan bukti bahwa pengetahuan yang mereka pelajari benar-benar membantu, bahwa pengeluaran mereka dapat dikelola lebih baik, dan bahwa masa depan pertanian masih layak diperjuangkan.

Sebab, ketika musim panen tiba dan hasilnya tidak sebanding dengan keringat yang dicurahkan, yang hilang bukan hanya uang. Ada waktu yang tidak dapat dikembalikan, tenaga yang telah habis, dan harapan keluarga yang ikut bergantung pada sebidang tanah.

Di Kayowa, Beni dan petani lainnya akan kembali menanam. Mereka akan kembali merawat tanaman, menunggu hujan, menghitung kebutuhan pupuk, dan berharap panen berikutnya membawa kehidupan yang sedikit lebih baik.

Mereka tidak meminta tanah menghasilkan keajaiban. Mereka hanya ingin kerja kerasnya cukup untuk menghidupi keluarga dan memberi alasan bagi anak-anak mereka untuk percaya bahwa menjadi petani bukanlah jalan menuju kemiskinan yang diwariskan.

Bioferdom kini membawa harapan baru ke tengah perjalanan itu. Namun, harapan tersebut baru akan benar-benar berarti ketika ia tidak berhenti pada penghargaan, melainkan tumbuh bersama petani—hingga suatu hari, ketika matahari kembali terik dan keringat kembali membasahi wajah mereka, ada satu beban yang tak lagi harus mereka pikul sendirian: kecemasan bahwa semua kerja keras itu mungkin tidak akan cukup untuk menyambung hidup.*

Laporan : Hasbi Latuba