PORTAL LUWUK – Meskipun masuk zona mata air, bukan berarti warga Dusun Tiga Desa Tontouan Kecamatan Luwuk mudah mendapatkan air bersih, terlebih ditengah kemarau panjang akibat menurunya debit air.
“Setiap calon pelanggan harus menyiapkan pipa sambungan sepanjang 500 meter bahkan lebih, untuk bisa tercantol pada pipa tersier milik pengelolaan air bersih yang jaraknya cukup jauh,”ungkap salah seorang warga yang sudah seminggu lebih tidak mendapatkan aliran air.
Pantauan media ini, pihak pengelola air di Desa Tontouan terkesan asal asalan dalam mengelola air bersih, khusunya dalam melakukan pipanisasi tersier. Banyak pipa tersier berukuran kecil (2cm) mengalami kebocoran parah dan bahkan tidak teraliri air.
Akibatnya, untuk mendapatkan setetes air, sesama warga saling berebutan mencari titik pipa yang dialiri air walaupun jaraknya jauh dari pemukiman. Namun tidak sedikit warga pasrah tanpa aliran air.
Parahnya lagi, jika melihat cara kerja pengelola, pipa sambungan warga yang diadakan secara mandiri nampak berhamburan dibadan jalan tanpa dikelola secara teratur layaknya pemasangan pipa milik perusahaan daerah air minum.
“Pipa sambungan milik warga memang seperti ini hanya berada diatas badan jalan, dan setiap hari dilindas pengendara dan menjadi penghalang jalan. Warga sengaja membentangkan pipa asal asalan yang penting bisa tercantol ke pipa tersier milik pengelola yang ada airnya, meskipun harus menyiapkan pipa/selang sepanjang 500 meter,”ungkap warga dusun tiga.
Masalah krisis pengelolaan air ini telah dikeluhkan kepihak pengelola air bersih yang ada di desa. Namun tak ada niat baik sedikitpun dari pihak pengelola. Malah parah petugasnya mengungkapkan, perbaikan dan pengadaan pipa baru butuh anggaran.
Hal ini tentu bertolak belakang dengan ribuan pelanggaran yang setiap bulan harus menyetorkan tagihan air Rp20 ribu per pelanggan.
“Kami tidak bisa menyiapkan pipa baru, kami hanya perbaiki. Kalau bocor kita ikat pakai ban motor bekas. Ini semua pakai anggaran dan kami hanya petugas air. Komplenya ke pengurusnya saja. Setiap kami meminta anggaran, pihak pengelola tidak mengubrisnya,”ujar salah seorang petugas perbaikan air.
Fakta sulitnya warga mendapatkan air bersih memang benar adanya. Terlebih jika melihat langsung kontruksi pemasangan pipa tersier yang terkesan dibuat asal asalan.
Akibatnya kontruksi pipa secara keseluruhan tidak sesuai standar pipanisasi. Warga mendesak agar pemerintah daerah mengambil alih langsung pengelola air bersih di desanya.
“Kontruksi pipanya harus diubah ulang. Ini mungkin butuh dinas teknis. Jika pemasangan dan kontruksi pemasangan baru telah selesai dibuat, baiknya pengelolaanya diserahkan ke PDAM sebagai perusahaan profesional,”harap warga.*
SKRIP BANER ATAS












