SKRIP BANER ATAS
★ Unggulan Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000
Es Jeruk Jo
ES Jeruk Jo ★ 5
Es Jeruk Jo
Rp 10.000

Order via WhatsApp
INFO DINKES

Tren Kasus Malaria di Banggai Stagnan, Tahun 2023 Capai 115 Kasus, Dinkes Siapkan Langkah

1101
×

Tren Kasus Malaria di Banggai Stagnan, Tahun 2023 Capai 115 Kasus, Dinkes Siapkan Langkah

Sebarkan artikel ini
Foto : Ilustrasi

PORTAL LUWUK – Endemis Malaria di Kabupaten Banggai cenderung stagnan alias masih mengalami pasang surut. Endemi ini merupakan penyakit infeksi oleh protozoa dari jenis Plasmodium yang menyerang sel darah merah.

Jika dibandingkan sejak Tahun 2019 terdapat 20 kasus dan terjadi penurunan pada Tahun 2020 (12 kasus) dan Tahun 2021 (3 kasus) di Kabupaten Banggai. Namun pada Tahun 2022 kembali terjadi peningkatan 23 kasus positif dan Tahun 2023 sebanyak 115 kasus.

iklan
Scrool Untuk Membaca Berita

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, M. Rizal kepada Portalluwuk.com, Senin (15/1/2024).

Baca Juga :  Dinkes Banggai Hadiri Rakerkesnas Kesehatan di Banten

Menurut Rizal, meskipun terjadi kenaikan positif malaria, pihaknya terus melakukan langkah langkah eliminasi malaria seperti pembagian kelambu disertai pemantauan penggunaanya.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan obat anti malaria dan perluasan penemuan dini malaria, meningkatkan kapasitas SDM kesehatan dan kerja sama lintas program dan organisasi profesi. “Untuk mencapai target ini, perlu dilakukan intensifikasi pelaksanaan penanggulangan malaria secara terpadu,”tutur M.Rizal.

Baca Juga :  Kadinkes Banggai Ingatkan, Selama Cuti Bersama UGD Puskesmas Tetap Buka

Adapun langkah selanjutnya yang dilakukan Dinkes Banggai yakni melakukan penemuan kasus sedini mungkin melalui kegiatan Passive Case Detection (PCD), melakukan penyelidikan Epidemiologi pada setiap kasus positif.

“Kami juga melakukan kegiatan pemetaan reseptifitas, survey darah massal, survey demam dan dilakukan surveilans migrasi melalui Puskesmas dan dilakukan penyemprotan, karvasida dan biological control serta pelatihan pemetaan pada daerah reseptif malaria,”tandasnya.*